JASA MARGA PEGIAT ALAM (JASMAPALA) ALAMAT: PLAZA TOL TAMAN MINI INDONESIA INDAH, JAKARTA 13550, EMAIL: jasmapala@jasamarga.co.id

Kamis, 03 April 2008

PENDAKIAN GUNUNG PANGRANGO




Ikutilah pendakian masal Gunung Gede Pangrango 2958 Mdpl yang akan dilaksanakanpada tanggal 1 - 4 Mei 2008, dalam rangka memperingati 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional dengan diadakan acara penanaman pohon dan operasi bersih di lingkungan kawasan Gunung Gede Pangarango, bagi yang ingin berpartisipasi mohon hubungi alamat tersebut diatas dan pendaftaran ditutup tanggal 25 April 2008. (jasmapala)

Rabu, 16 Januari 2008

BAKSOS JASA MARGA DI JAWA TENGAH



Tim Medis melakukan kegiatan pengobatan masal di Dusun Payaman, Kabupaten Kudus, mulai pukul 14.00 s/d 18.00 dengan pasien sebanyak 129 pasien dengan kategori penyakit sangat komplek (ispa, batuk, pilek dll).

Tanggal 12 Januari 2008, Tim Medis melanjutkan kegiatannya yaitu pengobatan masal di lokasi posko yang sama, kegiatan pelayanan dimulai kembali jam 9.00 – 17.30, pasien yang dilayani sebanyak 300 orang, Tim Medis juga melakukan antar jemput pasien yang jaraknya agak jauh dari posko sebanyak 25 orang. Sementara Tim Medis melakukan pengobatan masal, Tim Logistik memberikan bantuan berupa mesin kompa air untuk memenuhi kebutuhan pengungsi dalam penyediaan air bersih dan untuk membersihkan ruang sekolah yang kotor akibat banjir.
Tim Logistik membantu para pengungsi dengan memberikan bantuan berupa mie instan, air mineral, biscuit dan makanan ringan.

Tanggal 13 Januari 2008, pukul 12.30 Tim Jasmapala tiba di Jakarta, kemudian kembali ke kediaman masing-masing untuk istirahat dan keesokan harinya bekerja kembali seperti biasa.
Jasmapala Cabang Surabaya – Gempol juga menyalurkan bantuan sembako dan obat-obatan serta minyak tanah kepada korban banjir di Kabupaten Bojonegoro mulai tanggal 1 Janunari 2008, dan tanggal 5 Januari 2008.



Jumat, 07 Desember 2007

KEGIATAN JASMAPALA



Jasmapala adalah suatu perkumpulan para pecinta alam karyawan PT Jasa Marga (Persero) Tbk yang terdiri dari Kantor Pusat dan Kantor Cabang di seluruh Indonesia, dimana selain melakukan kegiatan dengan alam seperti penghijauan, pendakian, survival, Jasmapala turut serta dalam kegiatan bakti sosial diseluruh Indonesia. Beberapa kegiatan JASMAPALA yang sudah pernah dilakukan antara lain :

Kegiatan Pelatihan Dasar Pegiat Alam
Pelatihan dasar tersebut meliputi: Pengenalan teknik survival, navigasi, mountenering dan P3K.

Kegiatan Pendakian Gunung
Pendakian gunung dilakukan 2 kali dalam 1 tahun, antara lain pada acara HUT PT Jasa Marga (Persero) pada bulan Maret dan HUT RI pada bulan Agustus. Sebagian besar gunung di Pulau Jawa dan Sumatera sudah pernah dilakukan pendakian.

Kegiatan Bakti Sosial dan Penanganan Bencana AlamBakti sosial dilakukan pada daerah yang kiranya memerlukan bantuan, untuk penghijauan kami melakukannya pada ruas jaln tol di Indonesia. Adapun penanganan bencana alam yang pernah dilakukan oleh Jasmapala diantaranya adalah :  
  1. Bakti sosial bencana alam longsor di Desa Mandalasari Kabupaten Garut, Maret 03
  2. Bakti sosial bencana alam longsor sampah Leuwigajah, Cimahi, Bandung, Februari 05
  3. Bakti sosial bencana alam longsor Banjar Negara, Jawa Tengah
  4. Penanganan pasca bencana alam gempa bumi dan tsunami di NAD, 26 Des 04 - 31 Jan 05
  5. Penanganan pasca bencana alam gempa bumi di Bantul, Yogyakarta.
  6. Bakti sosial di lereng Gunung Merapi, Jawa Tengah
  7. Penanganan pasca bencana alam gempa bumi di Pangandaran, Jawa Barat Juli 06
  8. Penanganan bencana banjir besar Jakarta, Februari 07
  9. Penanganan bencana alam longsor di Babakan Madang Gunung Pancar Bogor, Februari 07
  10. Penanganan pasca bencana alam gempa bumi di Bengkulu dan Sumbar, September 07
  11. Bakti sosial bencana alam banjir Kudus, Jawa Tengah Februari 08
Kegiatan Lintas Alam, Napak Tilas dan Penghijauan
Kegiatan ini adalah suatu bentuk partisipasi atau undangan dari panitia pelaksana, adapun undangan yang telah kami penuhi antara lain :      
  1. Nyukcruk Galur Pager Betis di Majalaya, Kabupaten Bandung.
  2. Lomba lintas alam Aphace One di Kuningan, Jawa Barat.Lomba lintas alam HUT Kota Tegal, Pekalongan dan Purbalingga.
  3. Serta napak tilas yang diselenggarakan oleh pegiat alam di Jawa dan Sumatera. 
  4. Kegiatan Penghijauan dilakukan di sepanjang jalan tol yang dioperasikan PT Jasa Marga (Persero) di Indonesia.
Demikian kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan oleh Jasmapala, semoga bermanfaat bagi PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan masyarakat Indonesia pada umumnya.   





Rabu, 22 Agustus 2007

JASMAPALA BERADA DI 3.078 Mdpl GUNUNG CEREMAI



Gunung Ceremai terletak di dalam kawasan tiga Kabupaten yaitu Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Majalengka, Gunung Ceremai yang memiliki ketinggian 3.078 Mdpl mempunyai keistimewaan tersendiri bila dibandingkan dengan gunung-gunung lain di pulau Jawa antara lain Gunung ini mempunyai kawah ganda yaitu kawah barat seluas 400 m terpotong oleh kawah timur yang mempunyai luas 600 m dan pada ketinggian 2.900 Mdpl dibagian lereng selatan terdapat bekas titik letusan yang dinamakan “Goa Walet”. Untuk menuju ke Puncak Ceremai dapat dicapai melalui banyak jalur pendakian, akan tetapi yang dipopulerkan dan mudah dilalui adalah melalui Desa Palutungan, Desa Linggarjati di Kabupaten Kuningan, dan Desa Apuy di Kabupaten Majalengka.

Melalui jalur Palutungan Tim Jasmapala yang berkekuatan 31 orang antara lain yang terdiri dari Kantor Pusat, Cabang Jagorawi, Cabang Tangerang, Cabang Cikampek, Cabang CTC, Cabang Purbaleunyi, Cabang Cirebon, Cabang Semarang dan Cabang Surabaya. Pada tanggal 16 Agustus 2007 tepat pukul 17.00 WIB pendakian dimulai dari Bumi Perkemahan Desa Palutungan yang diawali dengan jalan setapak.

Cigowong - 1.450 Mdpl, trek dari Bumi perkemahan menuju Cigowong masih terlihat sedikit landai walaupun sesekali trek agak naik yang mebuat tenaga para pendaki sedikit harus dipaksakan sehingga napas para pendaki sedikit terengah- engah mengingat udara yang sangat dingin dan tipis sehingga mengganggu pernapasan para pendaki, Cigowong adalah satu-satunya tempat istirahat untuk mengisi persediaan air jika lewat jalur Palutungan dan disinilah Tim Jasmapala menggisi air sebanyak mungkin untuk persediaan diperjalanan untuk menuju puncak.

Kuta - 1.450 Mdpl,
jalur ini sangat terjal dan mengerikan jika dilihat pada pagi hari terdapat jurang yang cukup dalam antara kiri dan kanan jalur pendakian, Tim Jasmapala tanpa basa-basi melibas jalur ini dengan penuh semangat dan pantang mengeluh sekalipun dengan napas yang mulai terengah-engah.

Paguyangan Badak - 1.800 Mdpl, disini terdapat persimpangan antara jalur Palutungan dan jalur Apuy menuju ke Majalengka jika para pendaki tidak berkonsentrasi maka salah jalur bisa terjadi seperti yang dialami 35 orang peserta dari Indramayu dan Cirebon yang terjerembab kedalam jurang akibat salah jalur terperosok. Ketika terdengar sayup-sayup jeritan pertolongan maka Tim Jasmapala dengan cepat mencari datangnya suara tersebut dengan naluri SAR yang tinggi maka suara itu dapat terdeteksi arahnya dan ternyata ada sekelompok pecinta alam berjumlah 35 orang yang terjerembab, evakuasipun segera dilakukan oleh Tim Jasmapala yang dikomandani oleh Jajang, Feri dan Erwin maka dengan menggunakan tali Wibbing dan Carabiner (perlengkapan SAR) sesuai prosedur pendakian yang sudah dipersiapkan sebelumnya Tim Jasmapala dapat mengevakuasi ke 35 orang tersebut ke jalur yang benar.

Arban - 2.050 Mdpl, ini adalah batas ladang dan hutan belantara serta jalanpun berkelok-kelok dengan dengan haling rintang yang cukup tinggi para pendaki tak terkecuali Tim Jasmapala terlihat lelah setiba di pos ini mengingat tenaga sudah terkuras dan udara yang dingin mencapai 10 derajat celcius mulai menusuk tulang rasa ngantuk mulai menyerang Tim Jasmapala memutuskan untuk berhenti sejenak mengisi perut dengan indomie, popmie, roti, dan secangkir kopi hangat guna memulihkan tenaga untuk dapat melanjutkan perjalanan berikutnya.

Tanjakan Asoy - 2.200 Mdpl, jalur sepanjang kira-kira 700 meter ini sangat terkenal karena lintasannya yang sangat curam dan rawan akan mahluk halus yang sesekali menjelma berwujud harimau, bagi yang malas memanjat atau menuruni jalur ini ada jalur alternative yang landai dan agak memutar disebelah kanan jika dari arah bawah, akan tetapi Tim Jasmapala memilih jalur tanjakan Asoy yang curam dan berbahaya untuk meneruskan perjalanan menuju puncak, setelah melibas tanjakan Asoy dengan mengerahkan tenaga yang cukup ekstra maka Tim Jasmapala kembali memutuskan untuk beristirahat udara yang semakin dingin hingga membuat gigi gemetar dan badan menggigil maka sambil meneguk kopi hangat disisi api unggun yang sudah dibuat oleh para pendaki lain yang sedang beristirahat dan kemudian kami meluruskan badan sejenak sambil membungkus badan dengan Sleeping Bag agar terasa hangat dan tenaga dapat sedikit pulih.

Goa Walet – 2.950 Mdpl, Goa walet adalah salah satu kawah Ceremai yang sudah mati dan berada disebelah kanan jalur menuju puncak, didalam kawah tersebut ada goa yang biasa dipakai untuk Base Camp, disinilah Tim Jasmapala kembali untuk beristirahan yang cukup guna mempersiapkan tenaga untuk mencapai puncak Ceremai, mengingat jalan menuju puncak Ceremai ditempuh kurang lebih 30 menit namun untuk menuju puncak ini terdapat tanjakan yang cukup curam hingga mencapai 70 derajat berupa batuan alam dan batuan kapur bercampur pasir yang berdebu sehingga diperlukan tenaga yang cukup untuk mendakinya.

Puncak Ceremai – 3.078 Mdpl, 17 Agustus 2007, pukul 07.20 Tim Jasmapala tiba di puncak Gunung Ceremai dengan ketinggian 3.078 Mdpl, pemandangan yang sangat indah, udarapun sangat cerah nampak dari arah sebelah selatan terlihat puncak Gunung Slamet menjulang tinggi, disebelah utara tampak terlihat laut jawa yang berwarna biru, dan awan gumpalan putih nan indah berarak-arak nan indah bagai seputih niat dan tekad Tim Jasmapala mengunjungi puncak Gunung Ceremai yang indah.

Setelah menikmati pemandangan yang indah di puncak Gunung Ceremai maka Tim Jasmapala untuk segera turun dari puncak untuk kembali ke Desa Paluntungan mengingat kabut mulai mendekat ke puncak Ceremai sehingga kita tidak bisa lagi berlama-lama di puncak Ceremai.

Demikian hasil dari perjalanan Tim Jasmapala ke puncak Gunung Ceremai pada tanggal 16-17 Agustus 2007, yang tak terlupakan Tim Jasmapala mengucapkan :

Terima kasih kepada Allah SWT yang telah memberikan perlindungan, kesehatan dan kekuatan sehingga perjalanan Tim Jasmapala sukses ketempat tujuan dan kembali dengan selamat.

Terima kasih kepada Direksi PT Jasa Marga (Persero) yang telah memberikan kesempatan kepada Tim Jasmapala dalam rangka pendakian ke Gunung Ceremai.

Terima kasih kepada ketua Bapor Seni PT Jasa Marga (Persero) yang telah meberikan dukungan dan wejangan kepada Tim Jasmapala ke puncak Ceremai sehingga misi dapat dilaksanakan dengan baik.

Terima kasih kepada Kepala Cabang Palikanci yang telah memberikan dukungan, sumbang saran, sekaligus pelepasan Tim Jasmapala ketika berada di Cabang palikanci dengan semangat yang tinggi dapat menyelesaikan misi pendakian ke puncak Gunung Ceremai.


Jumat, 20 Juli 2007

JASA MARGA DI PUNCAK GUNUNG SLAMET



Melalui Jasmapala sebagai wadah pegiat alam PT Jasa Marga (Persero) kibaran bend
era Jasa Marga berada di ketinggian 3428 Mdpl puncak Gunung Slamet. Dalam rangka memenuhi undangan Hari Ulang Tahun Kota Tegal yang ke 406 kegiatan tersebut dihadiri oleh lebih dari 160 orang peserta yang terdiri dari berbagai kelompok pegiat alam seluruh Jawa ini dilaksanakan pada tanggal 6 hingga 8 Juli 2007, adapun kelompok pegiat alam dari PT Jasa Marga (Persero) yang diwakili oleh tim gabungan Jasmapala dari Cabang se Jabotabek Cabang Jagorawi diwakili oleh Effendi dan Ferry, Cabang Cikampek diwakili oleh A. Bachkrie, Cabang Cawang Tomang Cengkareng diwakili oleh Erwin dan Cabang Purbaleunyi diwakili oleh Hary Taruna dan Haryono.

Untuk pendakian gunung slamet dilakukan pagi hari karena jalur yang dilalui terlalu rumit dan terjal, di butuhkan waktu 2 hari 1 malam, Gunung Slamet mempunyai 4 jalur pendakian antara lain: jalur Bambangan, Moga, Guci dan Baturaden, jalur Bamabangan ada di daerah bobotsari, jalur Baturaden ada di daerah Purwoketo, jalur Guci dan Moga ada di daerah Tegal, jalur yang dilalui untuk pendakian masal adalah jalur GUCI .

Jalur awal pada pendakian sangatlah landai menyusuri lereng bukit yang di dominasi dengan alang-alang, pohon pinus dan cemara. Setelah berjalan 3 km kita tiba di pondok cemara, dari pondok cemara dimulai sudut yang tidak terlalu besar yaitu dengan kemiringan jalur sekitar 25 derajat, pada jalur ini banyak terdapat pohon tumbang dan ranting-ranting sehingga kita harus sering menundukan kepala. Pukul 12.17 tim Jasmapala tiba di pondok pinus, untuk beristirahat sejenak.

Jalur semakin sulit di tempuh, sesekali jalur naik turun karena jalur terhalang oleh batang dan ranting pohon sehingga kami terpaksa merangkak untuk melewatinya. Pada ketinggian sekitar 2800 Mpdl tim Jasmapala tiba di pondok kematus, di Pondok ini satu-satunya mata air, tim Jasmapala harus mengambil air untuk bekal sampai puncak. Waktu menunjukan pukul 18.00 matahari mulai tenggalam masing-masing pendaki mengeluarkan senter untuk membantu penglihatan, perjalanan pun dilanjutkan. Pukul 19.20 tim pendaki Jasmapala tiba di pondok pelawangan, di sini para pendaki mendirikan tenda untuk beristirahat dan mempersiapkan fisik yang kemudian pada pukul 03.00 pagi kami meneruskan pendakian, hanya makanan dan air yang dibawa, semua peralatan di tinggal. Dari pondok pelawangan menuju puncak gunung Slamet berjarak 2 jam 30 menit, di jalur ini kita tidak menemui pohon-pohon besar yang sudah kita lalui sebelumnya, kita melewati jalur kerikil dan pasir yang sangat curam dan mudah terperosok.

Pukul 05.30 kemenangan di capai dengan rintangan yang kami lalui, tim Jasmapala tiba dipuncak Gunung Slamet dengan ketinggian 3428 Mpdl. Tim dari Jasmapala menancapkan bendera Jasa Marga dipuncak Gunung Slamet, akibat angin yang sangat kencang membuat tim Jasmapala tidak terlalu lama di puncak Gunaung Slamet yang mempunyai suhu pada saat itu mencapai 10 derajat celcius. Setelah 2 jam berada dipuncak tim Jasmapala melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Pondok Pelawangan, angin bertambah kencang.

Selasa, 10 Juli 2007

PACKING EFISIEN



MENARUH barang didalam ransel amat berbeda dengan cara memasukkan buku-buku kedalam day pack (ransel kecil yang biasa digunakan kesekolah)। Buku, baju, kalkulator dapat dimasukkan begitu saja kedalam day pack. Sebaliknya, barang-barang pendakian harus dimasukkan kedalam ransel dengan aturan tertentu sehingga mengurangi rasa sakit pada saaat memanggul dan menghindari ruang kosong di dalam ransel.     

Untuk itu, langkah pertama mengepak perlengkapan pendakian adalah mengelompokkan barang menurut jenis, seperti pakaian dan kantong tidur, alat memasak, tenda, hingga makanan। Bungkus sejumlah kelompok barang itu kedalam kantong-kantong plastik agar mudah dicari. Sebagian besar pandaki menganggap, mengepak barang merupakan seni tersendiri dan kerap mengasyikan.

Bila barang perlengkapan telah terkumpul, masukkan semua kedalam ransel। Jangan biarkan ada sejumlah barang seperti cangkir atau sandal diikat diluar ransel. Selain tidak sedap dipandang, risiko hilang selama pendakian, amat besar. Meski demikian, ada beberapa barang yang ditoleril bila ditaruh diluar ransel dan diikat dengan tali webing ransel. Misalnya, matras karet dan tiang tenda. Namun, yakinkan, semua telah diikat dengan kencang.


Hal yang harus diperhatikan :

Letakkan barang ringan di bagian bawah dan barang berat di bagian atas

Barang-barang yang diperlukan paling akhir (misalnya peralatan tenda dan tidur), ditaruh dibagian bawah dan barang yang sering dikeluar-masukkan (seperti jaket, jas hujan, botol air) dibagian atas

Jangan biarkan ada ruang kosong didalam ransel, contoh: manfaatkan bagian dalam panci sebagai tempat menyimpan beras




TAK SEKEDAR MENCAPAI PUNCAK


Hiking atau mendaki gunung adalah olahraga petualangan yang cukup berisiko। Namun, jika semuanya dilakukan dengan penuh persiapan, rasa puas akan Anda rasakan setibanya dipuncak gunung.

APA sih yang dicari dipuncak gunung? Pertanyaan itulah yang selalu dilontarkan masyarakat awam kepada para pendaki gunung (pecinta alam) . Memang hal itu sulit dijawab dan dijelaskan secara gambling.
Pendaki gunung legendaris asal inggris, Sir George Leigh Mallory, kerap menjawab pendek pertanyaan tersebut dengan kata-kata,”Becauseitis there”. Kata-kata ini melukiskan betapa sulitnya menjawab pertanyaan tersebut tanpa merasakan sendiri pengalaman mendaki gunung atau menggeluti kegiatan petualangan ini.
Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) sebagai kelompok pecinta alam yang tergolong lama di Indonesia contohnya, mereka mempunyai alasan berbeda dari Mallory. Dalam halaman muka buku pegangan petualangan yang dimilliki seluruh anggotanya tertulis, “Nasionalisme tidak dapat tumbuh dari slogan atau indroktinasi.Cinta Tanah Air hanya tumbuh dari melihat langsung alam dan masyarakatnya. Untuk itulah, kami naik gunung.”
Pengelola toko perlengkapan outdooractivity Kataraft (Bogor) yang juga hobi mendaki gunung, Wahyu Indrawan, mengatakan, jika telah mencapai puncak gunung akan mendapatkan kepuasan tersendiri yang sulit diungkapkan. Selain itu, lanjut dia, mendaki gunung merupakan salah satu cara saja dari sekelompok orang untuk mensyukuri keindahan ciptaan Tuhan.
Sementara itu salah seorang wanita pendaki, Vina, mengungkapkan, “sama saja kalau ditanyakan dengan orang yang hobi mincing, apa sih enaknya mincing?” Yang jelas, tidak seorang petualang alam melakukan kegiatan itu dengan alasan untuk gagah-gagahan. Dengan begitu, tidak ada istilah modal nekat dalam mendaki gunung.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka, gunung mengandung makna ’bukit yang sangat besar dan tinggi, biasanya tingginya lebih dari 600 meter’, sedangkan puncak didefinisikan sebagai ’bagian teratas dari sebuah gunung’. Definisi ini penting untuk membedakan aktivitas berkemah dangan mendaki gunung.
Mengenai perbedaan ini Wahyu berkomentar, berkemah merupakan aktivitas yang dilakukan disekitar kaki gunung, biasanya dilakukan dilokasi sekitar camping ground. Sementara, naik gunung (hiking) merupakan sebuah aktivitas perjalanan mendaki gunung dengan tujuan yang sudah pasti, biasanya mencapai puncak gunung tersebut. Memang dia menilai aktivitas naik gunung tidak selalu bertujuan mencapai puncak. Banyak pula para pendaki yang bertujuan hanya mencapai ketinggian tertentu. ”Tapi, kebanyakan tujuannya adalah puncak, apalagi kalau gunung itu belum pernah didaki,” ungkap Wahyu.

Persiapan Menentukan Keselamatan
Sebagai olahraga yang tergolong ekstrem dan berisiko, untuk melakukan perjalanan mendaki gunung membutuhkan berbagai persiapan, mulai dari persiapan fisik, pengetahuan mountainering hingga perlengkapan P3K. Bagaimanapun, gunung adalah alam yang berisiko. Tebing terjal, udara dingin hingga angin yang kencang menjadi potensi resiko bila pendaki tidak membekali diri dengan peralatan, kekuatan fisik, pengetahuan tentang alam dan navigasi darat.
Tidak ada seorang pendaki yang dapat mengatur bahaya objektif ini. Namun, pendaki dapat mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan terhindar dari bahaya saat pendakian. Bila pendaki tidak mempersiapkan pendakian, dia hannya memperbesar bahaya subjektif. Misalnya, bahaya kedinginan karena pendaki tidak membawa jaket tebal atau tenda untuk menahan udara dingin dan angin kencang.

Salah seorang anggota Mapala UI Beni Lesmana mengatakan, secara umum persiapan mendaki gunung terbagi menjadi 3 bagian, yaitu persiapan perlengkapan, persiapan stamina, dan penguasan medan। ”tiga hal ini adalah yang saya rasa penting dilakukan,” ujar Beni। Untuk persiapan perlengkapan, Beni menjelaskan, perlengkapan mendaki gunung secara umum terbagi menjadi 2 bagian, yakni perlengkapan kelompok dan perlengkapan pribadi।
Perlengkapan kelompok terdiri atas tenda, bahan-bahan makanan, peralatan P3K, alat penerangan , seperti senter atau lilin, peralatan memasak yang meliputi kompor beserta bahan bakarnya, misting, dan wadah hingga perlengkapan navigasi dan survival, seperti kompas atau peta. Sementara, perlengkapan perorangan terdiri atas ransel (carrier) , sepatu hiking, matras, topi atau penutup kepala, alat penahan dingin yang meliputi jaket, baju, kantong tidur (sleeping bag), sarung tangan hingga peralatan pribadi.

Kedua adalah persiapan stamina yang meliputi persiapan fisik sebelum melakukan perjalanan. Mendaki gunung merupakan kegiatan fisik berat yang cukup melelahkan. Karena itu, kebugaran fisik adalah hal yang mutlak. Untuk berjalan dihutan tentunya pendaki akan menemui berbagai hambatan dan kendala.

Contohnya: untuk menarik badan dari rintangan dahan atau batu, memerlukan otot tungkai dan tangan yang kuat. Begitupun saat menahan beban ransel, diperlukan daya tahan tubuh dan otot bahu yang kuat. Semua itu memerlukan persiapan fisik karena perjalanan mendaki gunung membutuhkan waktu berjam-jam bahkan hingga hitungan hari untuk bisa tiba dipuncak.
Beni mengatakan, sebenarnya persiapan stamina ini tidak mutlak diperlukan jika pendaki sudah terbiasa berolahraga. ”Kalau sudah terbiasa olahraga, ya enggak perlu persiapan khusus,” ungkapnya.